3 sahabat

•September 21, 2008 • 1 Komentar

Suasana terasa riuh, gelak tawapun terdengar nyaring sekali.

entah apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga sahabat itu?

Kadang kala suasana seperti ini sering terjadi, di warnai dengan canda tawa dan sesekali memasang raut wajah kecewa.

konon ceritanya.

Sebutlah nama ketiga pemuda tersebut adalah abdul, bledek dan piko, lagi asiknya mereka bertiga membahas masalah pekerjaan yang akan dilakukan, tak di sangka mata piko tertuju sebuah kaleng yang bertuliskan merek susu yang tak asing bagi masyarakat kita, sebutlah bendero. Terbesit keinginan piko untuk merasakannya. Daripada menahan keinginan yang sudah di ujung ubun-ubun, kata orang tua dulu, namanya pamali atau akan menyesal di kemudian.

Setengah cangkir hangat di buat piko, sekejappun habis di minumnya. Melihat piko merasakan susu itu, abdulpun menelan ludah, dalam pikiran abdul “begitu lezatnya” . tak tinggal diam, abdulpun mengeluarkan sekantong susu yang telah di hilangkan bungkus karton kemasannya, di campurkan susu kemasan tadi dengan susu kaleng tersebut, tidak menunggu perintah lagi, di teguklah oleh abdul, tak disangka bledek memperhatikan dengan seksama sambil menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya, terucap kata bledek ” Sungguh nikmat dan enaknya, lebih enak dan makyoz lagi, bila saya di buatkan juga”, sejuruspun abdul membuatkan, karena merasa kasihan dengan bledek, di tuangkan ke dua susu tersebut ke dalam cangkir kecil, tiba-tiba bledek berujar ” tidak ada kepuasan kalau hanya secangkir kecil, berbuat pahala janganlah setengah-setengah, mumpung masih bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah, bulan yang menggandakan pahala bila kita berbuat baik terhadap sesama manusia?” abdulpun mengganti dengan gelas yang lebih besar , di tuangkan air hangat dan di aduk sekedarnya, bledek nyeletuk lagi ” kok tidak rata mengaduknya? katanya mau mendapatkan pahala yang banyak di bulan suci ini? berbuat baik harus di tuntaskan.” dengan sedikit wajah di tekuk dan cemberut abdulpun mengaduk sempurna gelas yang telah berisikan susu itu. tanpa mengucapkan sepatah katapun abdul memberikan gelas tersebut kepada bledek.

Tanpa ba bi bu bledek meneguknya. setengah gelas telah masuk ke krongkongan bledek.

kok amis susunya “ ujar bledek.

” O…… mungkin penciuman bledek aja yang lagi error” kata abdul.

Mereka bertigapun melanjutkan pekerjaan masing-masing.

sedetik, semenit, sejam pun berlalu, tak lama bledekpun meminum lagi susu yang tersisa di gelasnya, baru seteguk ada kecurigaan yang dirasakannya, di dalam benaknya, tidak seperti biasanya abdul berbuat baik tanpa ada embel-embel. bertanyalah bledek kepada kedua sobatnya?

” amis susunya kok tambah menyengat? “

dengan penuh kecurigaan, di teleiti dengan seksama kemasan susu yang di bawa oleh abdul, di bolak-balik, di angkat tinggi, di cium, di cari tanggal kadarluasanya, apapun di lakukan sama bledek untuk menuntaskan rasa penasaran dan kecurigaannya.

Di balik glagat sobatnya yang sedang penasaran, abdul tersenyum simpul sambil memperhatikan kelakuan bledek, kecurigaan bledekpun bertambah melihat abdul senyum sendiri. di cium sekali lagi susu kemasan yang di bawa abdul sambil mengeryitkan dahi….

” hm…… ada yang lain dengan susu ini? “

sambil tertawa kecil abdulpun bercerita, bahwa susu itu adalah susu untuk wanita hamil, berhubung istri abdul yang lagi hamil tidak suka susu merek itu, maka si abdul membawanya ke kantor, karena bawaan orok abdul adalah iseng terhadap orang, maka terjadilah kejadian tersebut….

tak ayal lagi abdul dan piko pun tertawa terbahak-bahak, sedangkan bledek yang terkena kejahilan abdul memasang raut muka cemberut dan mengeluarkan semua isi yang ada di perutnya, dengan sesekali melirik para sahabatnyayang sedang merayakan kemenangan kejahilannya?, dengan perasaan kesal di campur dongkol, bledek membuang susu di gelasnya, sambil berkata :

” aku kan ga hamil, kok di beri susu itu? “

sambil tertawa yang tak henti-henti pikopun menjawab

“bukannya kamu memang sedang hamil, berarti ga salah donk?

lha wong perutmu membesar begitu, seperti orang yang sedang hamil 7 bulan? “

mendengar itu bledekpun bertambah kesal sambil melihat perutnya yang memang besar dan ngeloyor pergi untuk menjauh dari para sahabatnya.

Senja

•September 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

cahaya itu….!!!” sahutku.
yang lainpun melihat datangnya sumber cahaya itu, sambil berkata
mengapa dengan cahaya itu bro…,
adakah yang aneh dari cahaya itu, yang membuat engkau tersentak?”(sambil mengerutkan dahi).
“engga, cuman cahaya itu yang e…..”
ucapku lirih.
e… apa?” tanya said.
“lupakan….. bukankah kita kemari memang tujuannya melihat senja itu?”
dengan anggukan kepala dari tiga rekannya, maka perjalanan menuju ujung dari jalan itupun dilanjutkan, bunyi berderik-derik dari gesekan antara papan pun menemani setiap langkah kita….
telinga terasa terganggu oleh ulah papan itu, tapi hanya itu musik yang menemani kami berempat untuk menikmati senja… musik yang ikut menemani gempuran ombak yang menghantam karang, musik yang menemani desissan angin, musik yang….
entahlah….
pikiranku sekarang ini tak sejernih air laut yang ku pandang, semua memori lamaku terangkat, tercampur aduk, pening terasa kepala ini.
ugh….
“saya benci cahaya senja ini!” lirihku di tepi bibir.
cahaya yang selalu mengingatkanmu, cahaya yang selalu ingin memelukmu, cahaya yang selalu ingin melihat rona pipimu, cahaya yang selalu ingin mengecup bibir ranummu, cahaya yang selalu…. dan selalu….
emosi, pikiran, rasa, raga, semua terhanyut oleh cahaya senja itu….
hanya karena cahaya senja itu yang membuatku terkapar di dalam rumah sakit itu, yang mengharuskan menutup hidung oleh aroma obat-obatan yang menyengat.
“AAAAAAAAAA………………”
ingin ku berteriak sekuat tenaga hingga hilang kekuatanku,
senja ini yang membuat itu terjadi, senja ini yang membuat ku harus menelan dua buah obat penenang di tambah seteguk obat kimia pembersih serangga.
hanya karena senja itu yang memupus harapanku untuk bersanding denganmu.
otakku terasa berputar mengingat kejadian itu, kejadian 2 tahun yang lalu.
yang akan mengantarkan kita menuju pelaminan. ya… 2 tahun lalu.
saat cahaya itu akan datang, kita bercengkrama di sudut itu, sudut tempat kesukaan kita, tempat yang hanya kita saja yang boleh duduk berdua untuk melihat cahaya yang di buat oleh senja itu, tak terasa pembicaraan kita semakin serius….
gelak tawa tak lagi terdengar renyah di telinga, kau memasang raut muka tidak seperti biasanya?
raut muka yang menandakan ada beban berat yang sedang mengelayutimu.
” ada apa dinda? “ ( sambil ku menggenggam jemari mungilmu )
” ceritakan dinda “
tiba-tiba air matamu menetes lembut di rona pipimu yang kemerahan itu…
deg…
apa yang telah kuperbuat, apa kesalahanku yang melukai hatimu, ku berfikir keras untuk menemukan jawabannya dalam pikiranku saat ini.
” ku tak ingin kau menangis….
ku tak rela melihat pipi kemerahanmu yang bersih itu ternoda oleh air mata yang asin itu….”
kaupun berucap sambil menangis keras di dadaku yang bidang ini,
” maafkan dinda mas, maafkan dinda…. “ (raut wajahkupun penuh keheranan)
” maafkan dinda yang tak jujur kepada mas tentang ini, tentang masalah ini.”(sontak wajahkupun bertambah bingung, WHAT HAPPEN?)
tanpa memberi jeda untuk ku bertanya, tak henti dinda berkata dan mengurai air mata hingga tangan kecilnya berpindah tempat untuk memelukku dengan sekeras-kerasnya.
” mas…..”
” din…..da….. e……

FYI ; wah…. mo tarawih… ntar di sambung lagi…..

Penat…

•September 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ku berjalan seorang diri, tanpa ditemani cahaya apapun, Jauh ku melangkah, hanya melangkah menyusuri jalan setapak yang berbatu dan berlumpur, gersang dan sendiri….Kuhela hafas yang berat…..Ah…adakah ketenangan di hati ini? ku coba halau gemuruh di dadaku? Menghentikan detak jantung yang teramat kencang? Hingga badan terasa berat untuk menopang kepala ini? Adakah akhir jalan ini… Smakin jauh ku melangkah, kegalauan hati semakin menjadi. kompromi dengan akal yang masih terombang-ambing.

Oh… adakah jawaban tentang ini… Ku lelah menjalaninya, ku ingin istirahat dengan ketenangan. Cahaya bulanpun enggan menemaniku berjalan, hanya hujan yang setia mengikuti setiap melangkahkan kaki dengan gontai. Haruskah ku berhenti sampai di persimpangan ini, berharap semua berakhir…. Sungguh menyiksa raga dan batinku?

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.